Tuhan menciptakan manusia sangat sempurna, manusia mempunyai hati nurani dan akal pikiran untuk diberi keleluasaan memilih apapun sesuai apa yang diinginkannya, terutama untuk kehidupan kerohaniannya.
Tingkat kerohanian seseorang tergantung dari seberapa besar upayanya untuk membuka hatinya menerima ajaran-ajaran kebenaran perihal Ketuhanan.
Tidak seharusnya manusia menyerahkan tingkat kerohaniannya pada Tuhan begitu saja, tanpa melakukan upaya-upaya untuk mendekatkan diri pada–Nya.
Semua manusia sudah ada dasar iman yang dimasukkan melalui hati nuraninya tetapi manusia terkadang tidak peka dan bahkan mengabaikannya.
Manusia lebih banyak menggunakan akal pikirannya untuk mengarungi kehidupannya, maka banyak manusia-manusia yang memilih kehidupan dunia lebih penting dari kehidupan akheratnya, atau mereka menjalankan kewajiban-kewajiban sekedar ritual saja.
Banyak manusia yang mendapatkan pengajaran tentang Ilmu Ketuhanan dari beragam cara dan keyakinan yang berbeda-beda, ada yang berdasarkan doktrin-doktrin dari pemuka-pemuka agama dengan mengatasnamakan Tuhan atau berdasarkan ajaran para utusan, yang dicampur adukkan dengan ritual-ritual budaya-budaya dilingkungan setempat.
Ibadah yang ditujukan kepada Tuhan, tetapi memakai cara-cara menggunakan sesembahan berupa benda-benda dan dilakukan ritual-ritual yang berlebihan untuk bersyukur atau menginginkan sesuatu, manusia berdalil ini budaya turun temurun apabila tidak dilakukan akan celaka atau akan ada musibah bagi manusia disekitarnya.
Banyak manusia awam menjalankan ritual ibadahnya berdasarkan doktrin-doktrin tersebut atau karena budaya yang turun temurun, ini terjadi dikarenakan lemahnya Ilmu Ketuhanan yang di sebarluaskan kepada manusia.
Pemahaman yang demikian sudah sangat melekat pada diri manusia dan meyakini ini adalah benar, karena tidak ada upaya dari pemuka-pemuka agama yang mengerti dan memahami isi kitab-kitab Tuhan untuk mendobrak budaya-budaya tersebut dengan mengatakan yang sebenarnya, mereka dibiarkan larut dengan ketidaktahuannya.
Tugas pemuka-pemuka agama atau para tokoh setempat yang diberi karunia kepandaian untuk menghafal, memahami ayat-ayat dari isi kitab atau menguasai dalil-dalil tentang Ketuhanan berkewajiban meluruskan manusia yang keliru karena ketidaktahuannya tanpa mengenal lelah dan tidak mudah menyerah atas kendala-kendala yang dihadapinya.
Kekeliruan pemahaman Ilmu Ketuhanan pun kini melanda pemuka-pemuka agama atau manusia yang mengaku pandai dan hebat dalam berdebat dengan dalil-dalilnya, berbekal Ilmu Ketuhanan yang sedikit itu mereka sudah berani berdebat dan menghakimi sesama.
Kandungan atau kajian yang sebenarnya dari firman-firman Tuhan yang terangkum menjadi Kitab-kitab justru tidak tersaring dengan benar karena mereka merangkumkannya dengan yang tersuratnya saja, lalu dipakai untuk memberikan pencerahan kepada sesama.
Yang menerima pencerahan karena keterbatasannya menelan mentah-mentah apa yang didengarnya dari pemuka agama, apalagi mereka meyakini pemuka agama itu sudah pasti benar karena selalu mengatasnamakan Tuhan dengan dalil-dalilnya.
Pemuka-pemuka agama yang muncul kini sangat banyak dengan berbekal hafal ayat-ayat dari isi kitab dan menguasai dalil-dalil, mereka sudah dapat julukan pemuka dan sudah berani memberikan pencerahan kepada jamaah.
Pemuka-pemuka agama seperti itu mendapatkan ilmunya dari belajar pada padepokan dan mendapatkan arahan bimbingan dari guru-guru yang mendapatkan ilmunya juga dari belajar atau karena keturunan, sehingga ilmu yang disampaikan kepada jamaahnya tidak mengenai sasaran atau tidak dapat mengubah hati jamaahnya untuk menyadari kekeliruannya, justru dapat membuat kekeliruan dalam menafsirkan bagi pendengarnya karena pemuka agama itu akan mencampur adukkan isi pencerahannya dengan akal pikirannya.
Tuhan menyampaikan firman-firmannya melalui para utusan-Nya, sempurna dan benar, para utusan menyampaikan lagi kepada pengikut-pengikutnya firman-firman tersebut dengan baik dan benar tanpa dikurangi atau ditambah-tambahkan, karena apa yang keluar dari lisan para utusan ketika itu telah dijamin oleh Tuhan akan kebenaran-Nya.
Ketika para utusan penyampai firman-firman sudah tidak ada, yang tinggal adalah ajarannya yang diyakini oleh masing-masing pengikutnya.
Dari rentang waktu yang sangat jauh antara utusan Tuhan dengan masa kini, tahukah kamu bahwa ada dari ajaran-ajaran yang dibawa oleh para utusan tersebut di putar balikkan faktanya atau di tambah-tambahkan atau bahkan dikurangi oleh mereka-mereka yang mempunyai niat tujuan tertentu untuk memecah belah umat.
Para utusan Tuhan adalah penyampai kebenaran, tidak membedakan keyakinan tetapi para utusan diperintahkan untuk menyatukan satu keyakinan yaitu satu Tuhan yang tunggal untuk disembah.
Mengapa perpecahan kini terjadi ? karena masing masing manusia meyakini bahwa keyakinannyalah yang paling benar, mereka rela menyakiti sesama dengan hujatan, caci maki, melakukan tindakan kekerasan dengan merusak tempat-tempat ibadah atau membunuh saudara sendiri, atau mengucilkannya sampai ada yang tidak mau mengakui sebagai keturunannya atau saudaranya hanya karena berbeda keyakinan.
Mengapa manusia bisa bertindak sangat keji kepada sesamanya dalam hal menghakimi perihal keyakinannya kepada Tuhan !!!!!
Tuhan saja yang menciptakannya dalam memberikan teguran kepada umatnya yang lalai sangat halus juga bijaksana didasarkan dengan kasih sayang dan penuh ampunan.
Perihal keyakinan seseorang kepada Tuhan dengan memilih utusan mana yang diyakininya lalu tata cara apa ibadahnya, manusia tidak boleh menghakimi atau mengganggunya apalagi sampai menyakiti tubuhnya. Bukankah para utusan yang telah diutus untuk menyampaikan firman-firman Tuhan sudah dijamin kebenarannya.
Janganlah kamu mempermasalahkan keyakinan orang lain, tetapi pikirkanlah dirimu sendiri apa sudah benar kamu menjalankan ibadah yang diperintahkan Tuhan dengan melakukan tata cara yang diajarkan oleh utusan yang kamu yakini, karena masing-masing manusia akan mempertanggungjawabkan dirinya sendiri.
Untuk apa kamu memperdebatkan keyakinan orang lain jika keyakinan yang kamu yakini saja tidak sepenuhnya kamu pahami dan kamu dalami tetapi kamu malah sibuk menghakimi orang lain.
Itulah tanda dimana pemuka-pemuka agama dalam menyampaikan pencerahannya mengambil ayat-ayat atau dalil-dalil hanya berdasarkan yang tersuratnya saja tidak mencari apa arti yang sesungguhnya atau apa yang tersirat dari ayat tersebut, mereka mengambil ayat sepenggal-sepenggal lalu di pakailah akal pikiran untuk menjabarkannya dan dijadikan bahan pencerahan untuk disebarluaskan kepada jamaahnya disertai doktrin-doktrin yang belum tentu kebenarannya.
Jamaah pun karena kepolosannya menerima begitu saja apa-apa yang disampaikan oleh pemuka agama tersebut dan diyakini dengan sangat mendalam dan melekat lalu disampaikanlah apa yang didengarnya kepada orang-orang sekitarnya dengan caranya dan di tambah lagi “bumbu penyedap” untuk menarik minat si pendengar, karena terkesan dengan isi pembicaraan tersebut maka si pendengar meneruskan kepada yang lain dengan ditambah “bumbu-bumbu” lagi begitu seterusnya hingga akhirnya banyak manusia yang tahu Ilmu Ketuhanan hanya berdasarkan katanya dan katanya tanpa tahu kebenarannya.
Kebanyakan manusia yang dengan keterbatasannya meyakini keyakinan yang diyakini hanya berdasarkan mengikuti keluarganya, lingkungannya atau banyaknya pengikut, sehingga dalam menjalankan ibadahpun biasa-biasa saja atau hanya sekedar ikut-ikutan saja.
Tentunya sangat merugi bagi mereka-mereka yang tidak mendalami dan mengetahui lebih dalam perihal Ilmu Ketuhanan, atau hanya merasa cukup puas dengan apa yang sudah ia ketahui.
Mengapa Tuhan menginginkan manusia untuk terus menuntut ilmu sampai ke liang lahat …..?
Karena manusia diberi akal pikiran dan hati nurani untuk memilih keyakinannya dan untuk mempelajari ilmu ilmu tentang Ketuhanan yang sebelumnya telah diturunkan kepada para utusan untuk menyampaikan firman-firman perihal kebenaran yang dapat dijadikan pedoman sebelum manusia memutuskan untuk memilih keyakinannya.
Ilmu-ilmu perihal Ketuhanan sangat banyak dan luas maka diperintahkan manusia untuk menuntut ilmu agar ilmu-ilmu-Nya dapat diketahui.
Di zaman yang sudah menggunakan tekhnologi terkini seharusnya semakin banyak manusia yang menuntut ilmu dan berusaha untuk menjadi lebih baik dalam mengenal Tuhan karena sudah banyak media-media atau sarana prasarana yang dapat menunjang untuk dapat menuntut ilmu terutama ilmu Ketuhanan.
Manusia-manusia sekarang pun semakin kritis dalam mendalami atau mempelajari suatu ilmu terutama ilmu Ketuhanan mereka sudah dapat berpikir secara realistis dan tidak mau lagi di doktrin-doktrin meski didasari dalil-dalil, meski dengan resiko mendapatkan bantahan atau di tentang keras oleh pendahulu-pendahulunya, memang sudah seharusnya kebenaran di ungkapkan agar manusia tahu yang sebenar-benarnya bahwa Ilmu Ketuhanan itu mengajarkan Kasih Sayang dan dapat mendamaikan bukan memecah belah atau menimbulkan permusuhan antara manusia.
Bagi mereka-mereka yang berani mengungkapkan kebenaran perihal ilmu Ketuhanan, jangan ada rasa takut dan mudah menyerah terus berjuang dengan tekad bulat dan yakin dengan terus memohon perlindungan Tuhan, agar banyak manusia-manusia yang menyadari segala kekeliruannya dalam ibadah dan keyakinannya kepada Tuhan.
Jangan menyerah karena ancaman dari manusia tetapi takutlah dengan ancaman Tuhan yang ditujukan bagi mereka-mereka yang tahu tapi tidak mau atau tidak berani mengungkapkan kebenaran perihal ilmu Ketuhanan.
Hukuman atau ancaman dari manusia hanya sesaat tetapi hukuman dari Tuhan adalah kekal dan abadi selamanya.
Selamatkan jiwa-jiwa manusia yang ibadahnya karena ikut-ikutan dan ala kadarnya atau beribadah karena budaya turun temurun dengan apa yang dilakukannya berdasarkan ritual-ritual saja. Dari semua itu tentunya dapat menjerumuskan mereka ke dalam siksa abadi, karena ibadah yang mereka lakukan bukan karena Tuhan.
Para pemuka agama sudah saatnya membuka diri dan membuka hati untuk dapat menerima masukan-masukan dari mereka yang sudah lebih dalam mempelajari ilmu Ketuhanan lalu duduk sama-sama sharing dengan kepala dingin dan hati yang bersih, memikirkan bagaimana cara untuk menyampaikan kebenaran hingga sampai ke pelosok negeri.
Para pemuka seharusnya dapat mendamaikan bagi kaum yang bertikai dengan memberikan pencerahan yang menyejukkan tanpa lagi membeda-bedakan keyakinan atau suku tetapi mempunyai niat tulus ingin membantu sesama karena semua manusia adalah ciptaan Tuhan yang tidak boleh dibeda-bedakan.
GUNAKAN HAK PILIH MU DENGAN TEPAT DAN BENAR
Filed under: Artikel - artikel Ditandai: | Agama, Ahlussunnah, aqidah, cinta, DAKWAH, iman, inspirasi, Islam, kasih, nurani, Puisi, remaja islam, Renungan, Sufi, syair